Kisah Seekor Anjing?
Aku sayang pemilikku. Dia sangat peduli padaku. Setiap pagi
dan malam, dia mengisi mangkuk dengan makanan anjing dan menaruhnya di lantai
untuk ku makan. Kemudian ia mengisi mangkuk lain dengan air yang dingin, bersih
dan segar dan juga menaruhnya di lantai. Dia tidak pernah lupa untuk memberiku
makan. Kadang setelah dia makan malam, dia bahkan memberikan untukku potongan
kecil sisa makanannya. Itu adalah makanan favoritku. Kadang berupa potongan
ayam, kadang potongan daging sapid dan jika aku beruntung ia bahkan kadang
memberiku potongan steak.
Aku sayang pemilikku. Ketika cuaca sedang cerah, dia
mengajakku berjalan-jalan di taman belakang rumah. Kadang, bahkan aku mengambil
taliku sendiri. Aku menggigitnya kemudian mengantarkan tali itu padanya, dan
kemudian ia merapikan tali itu dipangkuannya. Kemudian ia memasangkannya pada
leherku dan kami berjalan-jalan bersama, dan aku selalu bersemangat berlari
bahkan menariknya. Jika kami melihat kelinci di taman, dia melepaskanku
sehingga aku bisa mengejarnya. Aku sampai terengah-engah mengejarnya, namun aku
tak pernah berhasil menangkapnya sebelum ia masuk ke hutan. Aku kembali ke
pemilikku, yang berkata padaku, “Tidak apa-apa, aku akan menangkapnya lain
kali.”
Aku sayang pemilikku. Setelah kami bejalan-jalan, adalah
waktunya untuk tidur, kadang aku tidur di atas peti yang berbantal empuk, tapi
tak jarang pemilikku mengajakku tidur di kasurnya. Aku naik ke kasurnya dan
berbaring di sampingnya. Aku menjilat wajahnya, berterima kasih karena dia begitu
baik padaku. He mengatakan padaku bahwa jilatanku membuatnya geli. Dia
mematikan lampu, mengelus kepalaku, menggaruk telingaku dan mengucapkan selamat
malam.
Aku sayang pemilikku. Ketika kami bangun di pagi hari, kami
berjalan-jalan lagi. Kali ini dia membawa bola. Kami pergi ke taman, dan aku
menggonggong padanya, memintanya untuk melemparkan bola. Dia melemparkannya ke
rerumputan dan aku mengejarnya, berlari
secepat mungkin. Aku menemukan bola itu, membawanya dalam mulutku,
kemudian kembali padanya dan dengan patuh meletakkannya di kakinya. Dan kami
melakukan itu berkali-kali.
Tapi hanya satu yang aku tidak suka ketika aku bermain di
taman. Orang lain berteriak ketika mereka melihat kami. Mereka menutup mata
anak-anak mereka. Banyak yang kemudian berlari. Tapi anjing-anjing mereka baik,
mereka suka bermain-main juga, tapi mereka tidak seperti aku. Mereka berbeda.
Mereka mempunyai kaki yang lebih kecil, telinga yang aneh, kaki tambahan aneh
yang keluar dari punggung mereka. Dan kenapa kaki mereka tidak pucat dan
telanjang, seperti milikku?
Kisah Seekor Anjing?
Reviewed by Unknown
on
Agustus 22, 2017
Rating:
Tidak ada komentar: