Top Ad unit 728 × 90

Kisah Seekor Anjing?

Aku sayang pemilikku. Dia sangat peduli padaku. Setiap pagi dan malam, dia mengisi mangkuk dengan makanan anjing dan menaruhnya di lantai untuk ku makan. Kemudian ia mengisi mangkuk lain dengan air yang dingin, bersih dan segar dan juga menaruhnya di lantai. Dia tidak pernah lupa untuk memberiku makan. Kadang setelah dia makan malam, dia bahkan memberikan untukku potongan kecil sisa makanannya. Itu adalah makanan favoritku. Kadang berupa potongan ayam, kadang potongan daging sapid dan jika aku beruntung ia bahkan kadang memberiku potongan steak.



Aku sayang pemilikku. Ketika cuaca sedang cerah, dia mengajakku berjalan-jalan di taman belakang rumah. Kadang, bahkan aku mengambil taliku sendiri. Aku menggigitnya kemudian mengantarkan tali itu padanya, dan kemudian ia merapikan tali itu dipangkuannya. Kemudian ia memasangkannya pada leherku dan kami berjalan-jalan bersama, dan aku selalu bersemangat berlari bahkan menariknya. Jika kami melihat kelinci di taman, dia melepaskanku sehingga aku bisa mengejarnya. Aku sampai terengah-engah mengejarnya, namun aku tak pernah berhasil menangkapnya sebelum ia masuk ke hutan. Aku kembali ke pemilikku, yang berkata padaku, “Tidak apa-apa, aku akan menangkapnya lain kali.”

Aku sayang pemilikku. Setelah kami bejalan-jalan, adalah waktunya untuk tidur, kadang aku tidur di atas peti yang berbantal empuk, tapi tak jarang pemilikku mengajakku tidur di kasurnya. Aku naik ke kasurnya dan berbaring di sampingnya. Aku menjilat wajahnya, berterima kasih karena dia begitu baik padaku. He mengatakan padaku bahwa jilatanku membuatnya geli. Dia mematikan lampu, mengelus kepalaku, menggaruk telingaku dan mengucapkan selamat malam.

Aku sayang pemilikku. Ketika kami bangun di pagi hari, kami berjalan-jalan lagi. Kali ini dia membawa bola. Kami pergi ke taman, dan aku menggonggong padanya, memintanya untuk melemparkan bola. Dia melemparkannya ke rerumputan dan aku mengejarnya, berlari  secepat mungkin. Aku menemukan bola itu, membawanya dalam mulutku, kemudian kembali padanya dan dengan patuh meletakkannya di kakinya. Dan kami melakukan itu berkali-kali.

Tapi hanya satu yang aku tidak suka ketika aku bermain di taman. Orang lain berteriak ketika mereka melihat kami. Mereka menutup mata anak-anak mereka. Banyak yang kemudian berlari. Tapi anjing-anjing mereka baik, mereka suka bermain-main juga, tapi mereka tidak seperti aku. Mereka berbeda. Mereka mempunyai kaki yang lebih kecil, telinga yang aneh, kaki tambahan aneh yang keluar dari punggung mereka. Dan kenapa kaki mereka tidak pucat dan telanjang, seperti milikku?
Kisah Seekor Anjing? Reviewed by Unknown on Agustus 22, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by Cerpen Horror © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.