Sebuah Tatto
“Biarkan aku menunjukkan ini padamu,” mama berkata sambil
menggulung lengan bajunya dan dengan seringai licik. Di lengannya ada tato
kepiting yang menyeramkan. “Bintangku Cancer. Ketika aku masih kecil, kami pergi ke mesin peramal, dan kau
menuliskan tanggal lahirmu. Aku tidak yakin gemini atau aries, tapi aku
pikir harusnya tipe kematian, karena
CANCER adalah kematian!” dia mulai terbahak-bahak sampai ia batuk karena asap
rokoknya.
Ketika ia berhenti batuk, dia berkedip padaku. “Aku akan
menunjukan salah satu tato favoritku. Kau lihat ini?”
Aku mengangguk. “Itu tato seekor burung dalam sangkar.
Kenapa kandangnya terkunci?”
“Baiklah, ku tunjukkan padamu sepertinya orang-orang mencoba
terus mengurungku, tidak membiarkanku bebas. Mereka hanya tidak memahamiku.
Mereka memerintahkanku meminum obat atau…. atau mereka memaksaku untuk dirawat,
atau seperti ketika mereka menjauhkanmu dariku. Sialankan mereka itu?”
“Benar. Tapi ma.. sudahkah kau?”
“Aku sudah apa?” Lalu ia menghembuskan asap terakhir dari
rokoknya dalam gubuk kecil ini.
“Sudah minum obatmu?”
“Sayang, jangan terlalu khawatir”
Aku mendengar sebuah mobil masuk ke pekarangan, mungkin dua
mobil.
“Tapi yang satu ini benar-benar favoritku.” Dia tersenyum
padaku sembari menunjuk bagian bawah tangannya.
“Itu tato namaku?”
“Tentu sayang. Aku mentato namamu disini.”
Lalu ada yang menggedor pintu.
Mama mulai mengeluarkan pisau kecil dari kotak peralatannya.
Pintu mulai digedor lagi. “Buka pintunya, kami tau kau
bersama dia disana!”
“Kamu tidak mau meninggalkanku kan? Kamu tidak mau kembali
ke panti asuhan itu kan? Kemudian meninggalkanku kesepian sendiri?”
Aku menggelengkan kepalaku.
“Disini ada pengasuh dan juga polisi, BUKA PINTUNYA!”
Dia mulai berbisik. “Kamu mau kan aku buatkan tato yang kamu
suka untukmu sayang? Dan aku juga buat yang sama di tanganku.” Air mata
mengalir di pipinya.
“Tato yang seperti apa ma?”
“Hanya garis lurus”
“Bagaimana maksudnya?”
“Kita akan selalu bersama selamanya. Itu berarti tidak ada
seorang pun yang akan mengambilmu dariku lagi selamanya.”
“Dimana kau akan membuatkanku tato itu?”
“Disini.” Dia menunjuka mulai dari sikuku sampai ke
pergelangan tanganku.
“Akankah itu menyakitkan?”
“Cuma sebentar”
Sebuah Tatto
Reviewed by Unknown
on
Agustus 21, 2017
Rating:
Reviewed by Unknown
on
Agustus 21, 2017
Rating:

Tidak ada komentar: