Sihir
Tumbuh sebagai seorang penyihir tidak akan merubah kehidupan
dan pemikiran. Lily, Rose dan aku pergi sekolah, dijahili oleh anak-anak nakal,
dan mengendap untuk keluar setelah jam malam untuk mabuk-mabukan dan saling
menantang memasuki gereja untuk menggoda pendeta disana. Kamu tahu, kami
seperti gadis pada umumnya.
Akhirnya kami bisa menguasai kekuatan kami sebagai penyihir,
namun permainan ketika ketika kami masih kecil menjadi kebiasaan buruk kami.
Idenya adalah ketika kami saling merasa kesal kami bekata “Terkutuklah kau!”
dan memikirkan beberapa hal mengesalkan kecil menimpa mereka. Sihir yang
sederhana seperti “semoga kaus kakimu tidak akan pernah kering,” atau “semoga
orang yang naksir kamu selanjutnya orang yang jelek.” Bukanlah hal yang
benar-benar mengerikan.
Saat di masa kuliah kami terpisah, walau tetap menjaga
hubungan yang erat. Hubungan antar manusia memang hal yang menarik dari waktu
ke waktu, tapi sihir merupakan topik bagian dari diri kami yang tidak mungkin
kami tinggalkan, dan kami membicarakannya sekali atau dua kali dalam sepekan.
Rose dan aku masih suka permainan mengutuk orang, seperti
menyihir orang yang tidak berdosa yang terlalu pintar dalam pelajaran biologi, atau professor yang mempunyai
tatapan yang mengesalkan. Tidak pernah dengan kutukan yang mengerikan, hanyalah
kutukan yang ringan, kami tidak ingin rahasia kami terbongkar. Di sisi lain,
Lily tidak pernah menyihir orang sekalipun. Dia sepertinya sudah sangat
terbiasa dengan kehidupan manusia normal.
Sebenarnya, Lily satu-satunya orang yang mengejar gelar
master. Sedangkan aku hanya kembali bekerja di toko ibu, dan Rose bergabung
dengan grup music yang membuat kesepakatan dengan iblis.
Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Mungkin karena
cemburu, meski bukanlah benar-benar cemburu. Aku dan Rose bertemu setiap minggu
malam untuk menyihir Lily. Itu hanyalah sihir kecil karena dia meninggalkan
kami.
Tidak terlalu lama baginya untuk menyadarinya. Dan itu
mungkin jadi hal terbaik, sebelum segalanya di luar kendali. Kami mengakui
perbuatan kami, kami menangis bersama, kami berpelukan dan segalanya telah
terjadi, bersyukur karena Lily akhirnya kembali, walau hanya sesaat.
Keesokan harinya aku turun dari kamar untuk sarapan dan
melihat Rose telah menghabiskan sereal coklatku. “Akan ku sihir kau, Rose” aku
bergumam. Aku akan memikirkan sihir spesifiknya nanti – walau itu hanyalah
ungkapan kekesalanku.
Tapi aku lupa bahwa Lily ada di sana. “Sial, Daisy! Cukup
jangan ada sihir lagi!”
Aku merasa ada yang menimpa dadaku. Rose menjadi pucat saat
melihatku. “Daisy, tidak Lily! Apa yang kamu lakukan?!?”
“Tidak, aku tidak bersungguh-sungguh, aku hanya-“ Lily
tersedak, air mata mengalir di pipinya. Dia hanya berdiri membeku ketika Rose
bergegas memberi mantra-mantra untuk menyelamatkanku.
Tapi sihir telah terlontarkan, dan takdirku telah
ditentukan. Aku bahkan tidak bisa membalas sihir Lily untukku, saat lantai
terbuka dan aku hanya terdiam membiarkan api melahapku.
Sihir
Reviewed by Unknown
on
Agustus 24, 2017
Rating:
Reviewed by Unknown
on
Agustus 24, 2017
Rating:

Tidak ada komentar: