Top Ad unit 728 × 90

Sihir

Tumbuh sebagai seorang penyihir tidak akan merubah kehidupan dan pemikiran. Lily, Rose dan aku pergi sekolah, dijahili oleh anak-anak nakal, dan mengendap untuk keluar setelah jam malam untuk mabuk-mabukan dan saling menantang memasuki gereja untuk menggoda pendeta disana. Kamu tahu, kami seperti gadis pada umumnya.



Akhirnya kami bisa menguasai kekuatan kami sebagai penyihir, namun permainan ketika ketika kami masih kecil menjadi kebiasaan buruk kami. Idenya adalah ketika kami saling merasa kesal kami bekata “Terkutuklah kau!” dan memikirkan beberapa hal mengesalkan kecil menimpa mereka. Sihir yang sederhana seperti “semoga kaus kakimu tidak akan pernah kering,” atau “semoga orang yang naksir kamu selanjutnya orang yang jelek.” Bukanlah hal yang benar-benar mengerikan.

Saat di masa kuliah kami terpisah, walau tetap menjaga hubungan yang erat. Hubungan antar manusia memang hal yang menarik dari waktu ke waktu, tapi sihir merupakan topik bagian dari diri kami yang tidak mungkin kami tinggalkan, dan kami membicarakannya sekali atau dua kali dalam sepekan.

Rose dan aku masih suka permainan mengutuk orang, seperti menyihir orang yang tidak berdosa yang terlalu pintar dalam pelajaran  biologi, atau professor yang mempunyai tatapan yang mengesalkan. Tidak pernah dengan kutukan yang mengerikan, hanyalah kutukan yang ringan, kami tidak ingin rahasia kami terbongkar. Di sisi lain, Lily tidak pernah menyihir orang sekalipun. Dia sepertinya sudah sangat terbiasa dengan kehidupan manusia normal.

Sebenarnya, Lily satu-satunya orang yang mengejar gelar master. Sedangkan aku hanya kembali bekerja di toko ibu, dan Rose bergabung dengan grup music yang membuat kesepakatan dengan iblis.
Aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi. Mungkin karena cemburu, meski bukanlah benar-benar cemburu. Aku dan Rose bertemu setiap minggu malam untuk menyihir Lily. Itu hanyalah sihir kecil karena dia meninggalkan kami.

Tidak terlalu lama baginya untuk menyadarinya. Dan itu mungkin jadi hal terbaik, sebelum segalanya di luar kendali. Kami mengakui perbuatan kami, kami menangis bersama, kami berpelukan dan segalanya telah terjadi, bersyukur karena Lily akhirnya kembali, walau hanya sesaat.

Keesokan harinya aku turun dari kamar untuk sarapan dan melihat Rose telah menghabiskan sereal coklatku. “Akan ku sihir kau, Rose” aku bergumam. Aku akan memikirkan sihir spesifiknya nanti – walau itu hanyalah ungkapan kekesalanku.

Tapi aku lupa bahwa Lily ada di sana. “Sial, Daisy! Cukup jangan ada sihir lagi!”

Aku merasa ada yang menimpa dadaku. Rose menjadi pucat saat melihatku. “Daisy, tidak Lily! Apa yang kamu lakukan?!?”

“Tidak, aku tidak bersungguh-sungguh, aku hanya-“ Lily tersedak, air mata mengalir di pipinya. Dia hanya berdiri membeku ketika Rose bergegas memberi mantra-mantra untuk menyelamatkanku.


Tapi sihir telah terlontarkan, dan takdirku telah ditentukan. Aku bahkan tidak bisa membalas sihir Lily untukku, saat lantai terbuka dan aku hanya terdiam membiarkan api melahapku.
Sihir Reviewed by Unknown on Agustus 24, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

All Rights Reserved by Cerpen Horror © 2014 - 2015
Powered By Blogger, Designed by Sweetheme

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.