Aku Selalu Berharap Kamu Lolos
Kamu mendapatkan perhatianku pada tahun pertamamu, bejalan melewati
lapangan, ransel yang tersandang di bahu, tanda-tanda kebangsawanan tempampang
di dadamu, dan kuncir kuda yang melambai saat kamu melewatiku. Aku seketika terpesona,
tapi aku pikir aku telah menyimpulkan dengan keliru.
Secara bertahap aku mempelajari semua tentangmu dan dengan
mudah aku bisa berada di satu tempat yang sama denganmu. Kebanyakan kelas
pelajaranmu di dua gedung yang sama, dan kamu sarapa – telur orek, dagin babi, segelas
kecil kopi, dua gula dan dua krim – dan makan siangmu – salad yang dari rumah,
potongan bawang – pada tempat yang sama setiap hari. Akhirnya aku menemukan
keberanian untuk mendekatimu. Rencananya, aku akan mengungkapkan perasaanku
pada selasa sore, tapi kamu sudah bersama seorang lelaki saat itu.
Aku memperhatikan dalam keheningan saat hubungan kalian
berkembang liar. Aku ada disana ketika kamu terlalu banyak minum minuman keras
itu – sampai sekarang aku menyimpan botolnya – aku melihat dia memegang
rambutmu saat kamu muntah. Aku bersembunyi dalam bayangan papan skor baseball
ketika kamu terjatuh dalam pelukannya, dan kamu tidak bisa menemukan celana
dalammu setelah dia mengambil keperawananmu saat itu. Aku duduk di bangku
seberangmu ketika dia menipumu dan mematahkan hatimu. Aku sangat ingin
menyakitinya seperti dia menyakitimu, tapi aku tahu kau tidak ingin itu
terjadi.
Aku tetap memperhatikanmu setelah bebera tahun saat kamu
menjalin hubungan dan kemudian putus. Aku tetap memperhatikanmu sampai kamu
kuliah. Kita ada di kelas psikologi yang sama dalam satu semester saat itu.
Ketika kau berjalan di atas panggung, tersenyum, menerima gelar kelulusanmu.
Kamu mulai berkerja di kantor dekat taman, cukup dekat dari taman untuk ku bisa
selalu perhatikan, akhirnya, kesempatan itu datang. Aku mendekatimu di area
parkir. Kamu tersenyum, dengan samar mengingat kelas psikologi kita.
Aku sedang duduk di bangku kantorku, melihat keluar jendela
ketika mereka menemukan tubuhmu, diletakkan dengan sempurna dan penuh kasih
sayang seperti pertama kali aku melihatmu di lapangan itu.
Dua puluh lima tahun berlalu, dan lebih banyak lagi koleksi
kesayanganku – kira-kira satu setiap semesternya – tapi tidak ada yang
memabukkan sepertimu. Tidak ada teriakan sekeras dan perlawanan sekuat
tenaga. Kamu adalah yang pertama dan favoritku. Kadang, pada malam-malam
seperti malam ini dengan kenangan yang kembali teringat, aku berharap kamu
berhasi lolos, hanya saja harapanku tidak akan pernah terjadi.
Aku Selalu Berharap Kamu Lolos
Reviewed by Unknown
on
Agustus 24, 2017
Rating:
Tidak ada komentar: